Minggu, 17 Oktober 2010

Desain Bersahaja pada Sampul Majalah Jawa

Oleh Gamaliel W Budiharga
Sampai hari ini ternyata masih ada juga teriakan idealisme dari tanah Jawa. Sebuah teriakan yang mungkin sekarang sudah tidak lagi didengar oleh mereka yang muda. Teriakan itu berbahasa Jawa dan berwujud sebuah majalah. Majalah sebagai salah satu media massa adalah bagian dari kebudayaan manusia. Zeitgeist atau semangat jaman terpotret dengan jelas lewat terbitan majalah dari waktu ke waktu.
Sebagai salah satu media massa cetak, majalah memiliki segmentasi pembaca yang lebih spesifik daripada koran. Majalah menjadi media yang paling kentara dalam penawaran ideologi. Ada sebuah majalah yang mengkhususkan diri kepada gaya hidup pria urban, majalah otomotif, majalah game, majalah fotografi, majalah desain dan masih banyak lagi.
Pada umumnya majalah-majalah yang terbit di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia dalam setiap tulisannya. Akan tetapi, ada pula majalah yang menggunakan bahasa daerah. Meskipun terdengar janggal di masa ini, namun nyatanya majalah berbahasa daerah masih bisa terpajang di kios-kios majalah hingga saat ini. Di Jawa Barat ada majalah Mangle yang berbahasa Sunda. Di Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur) setidaknya masih ada empat majalah berbahasa Jawa yang masih terbit di Indonesia. Panjebar Semangat dan Jaya Baya terbit di Surabaya, Mekar Sari dan Djaka Lodang terbit di Yogyakarta serta Damar Jati terbit di Jakarta. Rata-rata oplah majalah ini di bawah 10.000 eksemplar.

Munculnya majalah berbahasa Jawa sebenarnya sudah sejak masa pra kemerdekaan. Penjebar Semangat misalnya, sudah terbit sejak 1933 sampai sekarang. Majalah ini didirikan dr. Soetomo sebagai media agitasi untuk menyampaikan berita-berita seputar kemerdekaan. Munculnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa ilmu pengetahuan di Indonesia, tentu saja menyebabkan majalah ‘harus’ terbit dengan bahasa Indonesia. Meski suku Jawa yang masih (mampu) berbahasa Jawa cukup banyak (sekitar 60 persen dari 220 juta rakyat Indonesia adalah suku Jawa), mereka bukan potensi pasar majalah bahasa Jawa[1]. Pertanyaan lebih lanjut, mengapa majalah-majalah ini masih saja terbit jika oplahnya saja sangat minim? Salah satu argumen yang bisa dijelaskan mungkin adalah masalah ideologi majalah (baca: ideologi Jawa).
Dalam tulisan ini saya mencoba menyoroti majalah Djaka Lodang yang terbit di Jogja sejak 1 Juni 1971. Majalah ini menggunakan bahasa Jawa Ngoko[2] baku seperti yang biasa dipakai di pusat kebudayaan Jawa (Yogyakarta dan Surakarta). Djaka Lodang bertiras 10.000[3] eksemplar ini tetap terbit kala media sejenis gulung tikar, bahkan bila tak ada satupun iklan bertengger. Salah satu rubrik yang paling populer adalah, Jagading Lelembut (dunia hantu), menjadi legendaris berkat konsistensinya menghadirkan cerita hantu.





Gambar 1 – Majalah-majalah berbahasa Jawa yang masih terbit hingga hari ini

Ruang Kosong dalam Desain

simple-studio_sample-banner2.jpg

Selama ini masih banyak yang belum memahami fungsi ruang kosong dalam desain. Kebanyakan mereka yang belum paham akan hal ini akan berkomentar “Kok ini dibiarin kosong?”, “Mubazir nih”, “Tulisannya gedein lagi dong biar nggak ada yang kosong”, dll.
Ruang kosong dalam desain memang terkesan “mubazir”, jika ia tidak difungsikan dengan benar. Tetapi jika memang ruang kosong itu disengaja ada, dengan maksud memperkuat komunikasi dalam desain tersebut, tentu ia menjadi bermanfa’at buat desain tersebut.
Analogi ruang kosong dalam desain seperti sebuah ruang terbuka dalam lingkungan atau seperti sebuah ruang keluarga yang lapang dalam sebuah rumah. Bayangkan jika kita tinggal di sebuah pemukiman yang sangat padat. Jalan-jalan disekitarnya hanyalah jalan-jalan kecil yang paling bisa dilewati motor. Tidak ada lapangan, temapat olahraga apalagi taman. Sangat berbeda dengan sebuah daerah pemukiman yang memiliki banyak ruang interaksi, tentu lebih nyaman untuk ditinggali.
Ruang kosong adalah tempat mata “berisitrahat”. Sebuah desain yang hanya berisi tulisan, tanpa ilsutrasi apa-apa, tentu akan membuat pembaca “pusing” atau lelah. Apalagi jika ternyata content-nya tidak begitu menarik buat si Pembaca. Di jamin, pasti ditinggalkan!
Ruang kosong juga bertugas mengisolasi informasi, sehingga para pembaca terfokus perhatiannya pada bagian yang kita beri ruang tersebut. Setelah itu, kita bisa memindahkan fokus pembacaan pada hirarki berikutnya dalam desain tersebut.
Tetapi tentunya ruang kosong harus benar-benar dipertimbangkan. Membuat ruang kosong, tanpa kemantapan konsep hanya menimbulkan kemubaziran. Apalagi kita hidup di Indonesia, di mana pemahaman akan hal ini masih lemah. Tentu menjadi tantangan buat para desainer atau mereka yang terbiasa membuat desain untuk mengoptimalkan semua kekuatan dan faktor desain agar menghasilkan desain grafis yang bagus dan komunikatif tentunya.

Software Untuk Desain Grafis

Banyak jalan menuju pencapaian hasil grafis yang bagus. Baik itu teknik, bidang, jenis, warna dan software. Para desainer dunia tidak mempunyai patokan dasar dalam cara menghasilkan grafis yang bagus, yang ada adalah patokan hasil grafis yang baik dan sesuai dengan kaidah. Ada pula sebagian lainnya tanpa melalui kaidah-kaidah ini dan tetap saja hasilnya bagus. Sekarang waktunya kita berali untuk membahas apa saja software yang bisa digunakan dalam desain grafis.
PROGRAM PENGOLAH GRAFIK/GRAFIS
Oleh karena desain grafis dibagi menjadi beberapa kategori maka sarana untuk mengolah pun berbeda-beda, bergantung pada kebutuhan dan tujuan pembuatan karya.
1. Aplikasi Pengolah Tata Letak (Layout)
Program ini sering digunakan untuk keperluan pembuatan brosur, pamflet, booklet, poster, dan lain yang sejenis. Program ini mampu mengatur penempatan teks dan gambar yang diambil dari program lain (seperti Adobe Photoshop). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah:
- Adobe FrameMaker
- Adobe In Design
- Adobe PageMaker
- Corel Ventura
- Microsoft Publisher
- Quark Xpress
2. Aplikasi Pengolah Vektor/Garis
Program yang termasuk dalam kelompok ini dapat digunakan untuk membuat gambar dalam bentuk vektor/garis sehingga sering disebut sebagai Illustrator Program. Seluruh objek yang dihasilkan berupa kombinasi beberapa garis, baik berupa garis lurus maupun lengkung. Aplikasi yang termasuk dalam kelompok ini adalah:
- Adobe Illustrator
- Beneba Canvas
- CorelDraw
- Macromedia Freehand
- Metacreations Expression
- Micrografx Designer
3. Aplikasi Pengolah Pixel/Gambar
Program yang termasuk dalam kelompok ini dapat dimanfaatkan untuk mengolah gambar/manipulasi foto (photo retouching). Semu objek yang diolah dalam progam-program tersebut dianggap sebagai kombinasi beberapa titik/pixel yang memiliki kerapatan dan warna tertentu, misalnya, foto. Gambar dalam foto terbentuk dari beberapa kumpulan pixel yang memiliki kerapatan dan warna tertentu. Meskipun begitu, program yang termasuk dalam kelompok ini dapat juga mengolah teks dan garis, akan tetapi dianggap sebagai kumpulan pixel. Objek yang diimpor dari program pengolah vektor/garis, setelah diolah dengan program pengolah pixel/titik secara otomatis akan dikonversikan menjadi bentuk pixel/titik. Yang termasuk dalam aplikasi ini adalah:
- Adobe Photoshop
- Corel Photo Paint
- Macromedia Xres
- Metacreations Painter
- Metacreations Live Picture
- Micrografx Picture Publisher
- Microsoft Photo Editor
- QFX
- Wright Image
- Pixelmator
- Manga studio
- Gimp
4. Aplikasi Pengolah Film/Video
Program yang termasuk dalam kelompok ini dapat dimanfaatkan untuk mengolah film dalam berbagai macam format. Pemberian judul teks (seperti karaoke, teks terjemahan, dll) juga dapat diolah menggunakan program ini. Umumnya, pemberian efek khusus (special effect) seperti suara ledakan, desingan peluru, ombak, dan lain-lain juga dapat dibuat menggunakan aplikasi ini. Yang termasuk dalam kategori ini adalah:
- Adobe After Effect
- Power Director
- Show Biz DVD
- Ulead Video Studio
- Element Premier
- Easy Media Creator
- Pinnacle Studio Plus
- WinDVD Creater
- Nero Ultra Edition
- Camtasia
5. Aplikasi Pengolah Multimedia
Program yang termasuk dalam kelompok ini biasanya digunakan untuk membuat sebuah karya dalam bentuk Multimedia berisi promosi, profil perusahaan, maupun yang sejenisnya dan dikemas dalam bentuk CD maupun DVD. Multimedia tersebut dapat berisi film/movie, animasi, teks, gambar, dan suara yang dirancan sedemikian rupa sehingga pesan yang disampaikan lebih interktif dan menarik. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah:
- Macromedia
- Macromedia Authorware
- Macromedia Director
- Macromedia Flash
- Multimedia Builder
- Ezedia
- Hyper Studio
- Ovation Studio Pro
6. Pengolah 3 dimensi
- Xara 3D
- 3Ds Max
- Houdini
- Lightware
- Blender
- Pixar
- Maya
- Poser
- AutoCad
Dan berbagai macam program lainnya yang dewasa ini selalu berkembang trus dengan memberikan kemudahan-kemudahan untuk para penggunanya.

Artikel-artikel menarik tentang desain Grafis and tutorial

Teman teman sedikit mo bagi2 tutoril tentang desan grafik...
yaitu buat 3d menggunakan adobe Sotopop
tapi untuk lebih lengkap bisa kunjungi webblog artikel nya di www.bangdewa.web.id





Awalnya gw pesimis liat design2 3D text yg dibikin hasil kombinasi AI ,xara 3D dan photoshop

Kenapa gw pesimis..?? karena gw cuman bisa pake Adobe photoshop
doank..tapi gw pikir2 adobe photoshop dah cukup canggih untuk manip
segalanya.Tanpa kombinasi AI pun adobe photoshop mampu membuat design
3D text meskipun hasilnya tidak seindah hasil kombinasi dari AI, Xara
3D dan photoshop.



Okay..sekarang kita coba bikin design 3D text dengan Photoshop.



1.buat document baru. Foreground : #0BA3FB dan background : #FFFFFF. pilih Gradient Tool dan tarik dari atas ke bawah

agar background lembar kerja kita menjadi gradasi biru dan putih.

img524.imageshack.us/img524/6932/58873541.jpg



2.Tekan D agar foreground dan background set ke default. Tekan X untuk
membalikan putih ke hitam dan hitam ke putih. ( ribet banget ya.. )
lalu pilih Type Tool .set font to Arial dan font size 200 pt. ketikan
satu huruf sesuai huruf yang anda suka. Dalam tutorial ini saya
mengetikan O.

img145.imageshack.us/img145/2471/47412418.jpg



3.Rasterize layer lalu CTRL + T pilih distort, tarik dari pojok kanan bawah sampai terbentuk seperti contoh gambar dibawah :

img209.imageshack.us/img209/1735/38476807.jpg



Selanjutnya duplicate layer. Kasih nama PUTIH untuk layer KEDUA dan
HITAM untuk layer PERTAMA. Click layer pertama lalu invert Ctrl + i.
kemudian tekan alt + right arrow 18X sehingga membuat 18 layer HITAM
dan membentuk bayangan hitam yg muncul dari belakang layer PUTIH.

Seperti contoh gbr dibawah :

img402.imageshack.us/img402/1378/58509863.jpg



4.Merge down ke 18 layer hitam menjadi satu. Click layer PUTIH. Pilih
gradient overlay dan pilih 55 gradient. Bagi yg belum punya 55 gradient
silahkan sedot disini :
http://www.ziddu.com/download/4507012/gradients.rar.html

img402.imageshack.us/img402/7754/21094078.jpg



Pilih jenni .gradasi dari warna coklat,merah,orange dan putih. Lalu
atur blend mode : Normal, opacity 100%, Style : Linear, Angle : 56 dan
Scale : 64.

img301.imageshack.us/img301/5363/83493199.jpg



5.kemudian kasih sedikit bevel and emboss

Untuk Structure : Style : inner bevel, Technique : smooth, Depth : 501%, Size : 0, Soften 3px.

Untuk Shading : Highlight mode : Screen dengan opacity 72%. Shadow mode :Multiply dengan opacity 1%.

img521.imageshack.us/img521/9766/63538196.jpg



7.selanjutnya click layer HITAM atur gradient overlay. Blend Mode :
Normal, Opacity : 100%, Style : Linear, Angle : 90 dan Scale : 100 %
img152.imageshack.us/img152/7453/78461472.jpg



Ok sekarang anda punya satu huruf 3D.

img209.imageshack.us/img209/7677/23897071.jpg



sekarang kita bikin cantik 3D text yg kita buat dengan menambahkan
effect bayangan. Caranya merge down layer HITAM dan PUTIH. Duplicate
layer yg telah digabungkan Lalu Ctrl + T pada layer pertama pilih
>> Rotate 180 kemudian >> Flip Horizontal tekan ENTER. Ctrl
+ T sekali lagi pilih >> Distort lalu atur seperti contoh gambar
dibawah :

img207.imageshack.us/img207/231/57379093.jpg



Turunkan Opacity sampai 15 % dan hasilnya…..

img245.imageshack.us/img245/1337/31966790.jpg



Tambahkan huruf lain dengan cara yg sama seperti diatas. Tumpahkan juga
imginasi kalian agar sebuah karya akan tampak lebih menarik. Satu
contoh saya memberikan ornament bunga,daun dan rumput. Juga tambahan
cloud brush dan lens flare untuk background. Dan hasilnya….

img245.imageshack.us/img245/7030/morningoi.jpg



Selamat mencoba… jangan lupa berkunjung ke www.bangdewa.web.id  situs asli urang bogor

Desain Itu Penting

17 oktober 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Oleh : Hendro Tri Rachmadi
(Art Director Simple Studio)
Membuat kartu nama adalah perkara yang “sederhana”. Kita cukup mencantumkan logo, nama, alamat perusahaan dan nama si karyawan beserta posisinya di kartu nama tersebut. Namun disadari atau tidak, benda “sesederhana” tersebut ternyata mencerminkan citra dari perusahaan tersebut.
Seorang CEO sebuah perusahaan piranti pendidikan pernah menyatakan ketidakpuasannya kepada saya tentang desain kartu nama perusahaannya. Desain itu dibuat oleh seorang “desainer” yang dikenalnya. Entah kenapa ada yang membuat dia “kurang sreg” dengan desain tersebut. Kesannya kurang elegan menurutnya. Namun secara jujur dia mengatakan belum menemukan “faktor” yang membuatnya tidak elegan. Padahal menurutnya, desain tersebut sudah “menarik” dengan memainkan banyak gambar, warna-warna dan beberapa efek photoshop.
Setelah saya analisis sebentar, saya memberi kesimpulan kepadanya bahwa desain tersebut “terlalu ramai” sehingga malah terkesan norak. Belum lagi font yang dipilih adalah comic sans, yang membuatnya jadi semakin parah. Setelah diminta bantuan oleh CEO tersebut, saya buatkan dia desain kartu nama yang baru.
Desain yang saya buat justru jauh lebih sederhana dari desain sebelumnya. Saya hanya memainkan unusr grafis berupa garis dan kotak. Tetapi memang, font-nya saya pilih yang formal dan elegan. Serta penempatan yang hati-hati. Dan sebagai hasilnya dia puas sekali dengan desain tersebut. Walaupun tentunya dia harus merogoh kocek lebih mahal daripada sebelumnya. (Dia sempat kaget dengan harga yang saya minta sebelumnya).
Dalam realita, kita berhubungan dengan banyak desain : kop surat, banner, majalah, buku, koran, web, product packaging, dan masih banyak lagi. Dengan mudah kita bisa membedakan antara koran yang berkualitas dengan “koran murahan”. Atau membedakan antara kop surat perusahaan “kacangan” dengan perusahaan yang bonafide. Semua seakan sesederhana hanya dengan melihat dari tampilan luarnya.
Oleh karena itu jika masih ada orang yang belum menghargai desain dengan semestinya maka bersiap-siap akan kalah dalam persaingan. Sebab dia sudah meremehkan salah satu faktor terpenting untuk memenangkan persaingan tersebut. Dan pada akhirnya dia menjadi bagian yang teremehkan…

Tak Bisa Selamanya Kita Meremehkan Desain

Oleh : Hendro Tri Rachmadi (Art Director Simple Studio Indonesia)
Jika di zaman dahulu di mana persaingan tidak seketat sekarang, sebagian besar orang meremehkan desain grafis, okelah bisa diterima.. sebuah zaman dimana kebanyakan produsen menjual barang sebagai komoditi…
Tak terpikir pada masa lalu menjual teh dalam kemasan, atau bahkan yang lebih parah… menjual air putih!!!
Ya, air putih. Sebuah zat yang pada masanya “cukup” kita masak sendiri di dapur kita, lalu kita simpan untuk stok beberapa hari..
Tetapi dunia sudah berubah kawan. Dunia sudah berubah menjadi “lebih colorful”. Sebuah dunia yang kini membutuhkan “tampilan” berbeda atas setiap produk aslinya. Sebuah dunia yang butuh kemasan luar yang lebih menarik untuk mendapatkan “hati” calon customernya.
Di masa ini, silahkan saja kalau masih ada orang yang menjual sesuatu sebagai komoditi. Tapi yang harus diingat, bahwa ia tidak berharga kecuali sedikit.. sekedar pengganti ongkos produksi dan sedikit margin.
Pada masa ini kita membutuhkan tampilan yang lebih menjual, berkelas dan yang paling pas adalah sesuai dengan segmennya.
Tak sadarkah orang yang masih “meremehkan” desain grafis, bahwa ia seperti manusia purba yang hidup di zaman modern. Ia mengingkari sesuatu yang sudah sangat dipahami manusia modern, bahkan yang kurang update sekalipun.
Parameter paling sederhana adalah, lihatlah ketika anda memilih barang di sebuah supermarket. Semua barang itu anda tidak kenal dan anda tidak punya referensi sama sekali tentang barang yang jelas-jelas anda butuhkan tersebut. Akhirnya apa yang anda lakukan? anda akan mengamati kemasan dari produk tersebut, lalu “sedikit” membaca deskripsi di kemasan. Dan mencoba membandingkan retorika copywriting di kemasan itu beserta dengan “janji-janji manisnya” kepada konsumen. Lalu akhirnya “setengah menebak” barang yang akan di beli seraya berharap, kita tidak “salah pilih”…
Apa jadinya jika anda adalah salah satu produsen dari barang yang akan dipilih itu dan anda tidak peduli dengan kemasan produk anda tersebut? yang tentu berarti tidak peduli dengan desain grafis, yang seharusnya bisa membuat desain kemasan anda menjadi “lebih menjual”?
Setiap konsumen kita harus dibuat confident dengan tampilan barang yang akan mereka beli. Dan itulah adalah “kerjaannya” para desainer grafis. sebuah kerja yang “sebenarnya” tidak sederhana. Tapi di benak orang yang kurang menghargai ide, hal itu akan menjadi:….. “kalau begini mah gue juga bisa”… (yah kalau bisa… bikin aja sendiri lah).
Saya pernah mengajar kursus corel draw… dan pesertanya baru di minta membuat bentuk-bentuk yang sudah dicontohkan saja, butuh waktu yang cukup lama. Apalagi jika yang kita berikan adalah “kertas putih”, dan kita minta dia untuk membuat desainnya dari awal?
Saya, anda dan kita semua hidup yang sudah sangat berbeda dengan era 50-an, 60-an bahkan 90-an! Di masa ini jika anda tidak “menginvestasikan dengan benar” pada sisi desain, berarti anda sudah menambahkan saham untuk gagal…
Satu contoh sederhana lagi bisa saya sampaikan disini… Mungkin sebagian kita mendengar “habatussaudah”… jintan hitam yang bahkan ada “dasar hadits”nya. Berapa banyak, produsen yang memproduksi benda “berkualitas” tersebut.. Namun sejak dulu saya selalu menyayangkan kemasan mereka yang sangat tidak menjual. Mungkin saya tidak menyarankan mereka membuat kemasan “molding” yang sudah pasti mahal. mereka cukup membeli kemasan yang sudah “umum” di pasaran. Namun labelnya harus didesain dengan “sempurna”, sehingga kekurangan di sisi kemasan bisatertutup oleh kualitas desain label yang mengesankan “high class”…
Tapi “sepengelihatan” saya, hanya “sedikit” (kalau bukan tidak ada sama sekali), produsen yang melakukan itu. Dan sebagai akhirnya, benda berkualitas itu tetaplah terjual dengan “harga yang sebenarnya bisa di upgrade lagi”.
Nah sekarang ada “pemain besar” di bidang farmasi yang akhirnya melirik benda “ajaib” itu. Mereka mengemasnya dengan sangat baik, di beri brand, disiapkan strategi komunikasi dan sebagainya.. yang tentunya akan “mengancam” para pemain kecil…
Saya pikir hal ini tidak sesederhana karena  ”kurang modal”. Ini adalah masalah persepsi! Kebanyakan pengusaha kecil -yang tetap kecil- tidak menghargai kualitas dan kemasan. Kalau kita punya produk berkualitas, maka kemaslah dengan sangat baik. Sebab, makin kesini orang tidak membeli produk. Tetapi membeli “brand”. Berapapun kocek yang harus dirogoh, banyak orang rela-rela saja, asal dia bisa mendapatkan “prestise” dari brand tersebut.
Sayangnya, sulit sekali terkadang memahamkan hal ini. Dan hal ini akhirnya baru bisa dipahami setelah sebuah usaha itu rugi/bangkrut atau bahkan tutup sama sekali. Memang pelajaran baru datang belakangan…
Desain grafis adalah sebuah proses, bagian dari pekerjaan besar mata rantai bisnis kita. Ia mungkin hanya pelengkap. Tapi pelengkap yang sangat signifikan. Desain grafis yang baik memungkinkan produk/jasa anda “dicitrakan” sesuai dengan yang anda minta…
Mulailah berhenti meremehkan desain. Sebab, customer anda tidak suka anda remehkan… Mereka tidak hanya butuh produk yang bagus, tapi juga produk yang berkelas dan bisa membantu meningkatkan “citra diri mereka” sendiri..
www.simplestudio.wordpress.com

Legalitas Transaksi dalam Bisnis Disain Grafis

h1oktober,17,2010

Legalitas Transaksi dalam Bisnis Disain Grafis

Kini dengan besarnya kebutuhan tenaga disain grafis banyak bermunculan penyedia jasa disain grafis dari yang secara perorangan hingga yang berbentuk badan hukum komersial. Bidang yang kental dengan ‘karya-cipta’ ini telah banyak digandrungi oleh generasi muda hingga jumlah tenaga ahli dibidang ini berkembang pesat dan tidak sedikit diantaranya yang mulai berbisnis jasa disain grafis. Bagi pemula legalitas transaksi sangat penting untuk dipahami. Karena pemula relatif rentan termanfaatkan atas kelemahan daya tawarnya. Dalam artikel ini ada baiknya saya berbagi akan pengalaman saya ketika pertama kali memulai berbisnis dengan perusahaan besar, agar dari pengalaman ini dapat dipetik maknanya sebagai pelajaran khususnya bagi pemula.
Awalnya saya tidak menganggap mendisain itu sebagai bisnis, saya anggap hanya hobi dan sekedar untuk membantu teman yang memerlukannya. Suatu saat saya diperkenalkan oleh teman dekat saya dengan staff salah satu perusahaan asuransi besar di Jakarta yang sedang memerlukan keahlian saya untuk mendisain majalah perusahaan serta mendisain dan mencetak beberapa macam poster perusahaan tersebut.
Saat itu dengan sifat rendah hati saya, saya bersedia saja dibayar dengan jumlah sekehendak staff perusahaan tersebut, seperti halnya membantu teman saja. Jadi saat itu saya hanya sekedar ingin menjalin hubungan baru yang baik. Karena menurutnya hubungan ini akan terus berkelanjutan berhubung majalah itu akan terus diterbitkan dan masih banyak material lain yang butuh keahlian ini. Untuk kepastian transaksi saya minta agar disusun perjanjian atas teknis pelaksanaan pekerjaan antara saya dan perusahaan tersebut. Itu-pun saya yang minta, jika saya tidak minta nampaknya akan diabaikan oleh mereka.
Seiring dengan penyusunan perjanjian tersebut saya sudah diminta mulai duluan mengerjakan disain majalah dan poster tersebut. Hampir setiap pagi saya diburu dengan berbagai koordinasi agar bisa selesai dengan deadline yang sangat singkat. Di pertengahan, perjanjian tersebut baru diserahkan pada saya. “Jim lu tanda tangan disini ya!” ucap staff perusahaan tersebut yang secara implisit meminta agar saya langsung menandatangani perjanjian tersebut agar urusan cepat selesai. Lalu atas rasa saling percaya saya bersedia langsung menandatangani perjanjian tersebut tanpa sempat mempelajari lebih dahulu seluruh isinya. Bagi saya yang penting ketika itu saya telah melihat angka nominal yang akan dibayarkan pada saya sesuai kesepakatan.
Setelah pekerjaan selesai, pembayaran berlangsung lancar seolah-olah tiada permasalahan. Namun setelah saya teliti ulang isi perjanjian tersebut, disebutkan Soft Copy hasil disain menjadi hak milik Perusahaan, dan perusahaan berhak mengubah serta memperbanyak tanpa pemberitahuan kepada pihak manapun. Dan akhirnya memang benar, selanjutnya Soft Copy Final ArtWork saya mereka manfaatkan kembali untuk kreatif disain majalah edisi selanjutnya dan disitu saya sudah tidak dilibatkan lagi, ‘iming-iming’ transaksi berkelanjutan ternyata hanya tipuan belaka agar saya mau dibayar sangat rendah. Tindakan itu secara hukum telah mereka susun agar dapat dibenarkan walau secara etika moral perbuatan merampas hak cipta sangat tidak terpuji. Sungguh malang saya saat itu, mudah sekali dibodohi dianggap sebagai disainer murahan lalu dibuang begitu saja.
Dari pengalaman saya tersebut hal yang perlu dicatat adalah :
1. Setiap transaksi formal harus ada legalitasnya baik berupa pernyataan dalam kuitansi atau jika diperlukan berupa perjanjian formal. Dan Jangan memulai pekerjaan sebelum ada kepastian legalitas tersebut. Karena sebaiknya kepercayaan timbul setelah ada kepastian, walau yang anda hadapi adalah teman anda sendiri.
2. Selalu yakinkan legalitas transaksi baik berupa perjanjian formal, pernyataan dibalik order-form, faktur, kwitansi dsb, agar tidak menyimpang dari prinsip adil dan saling menguntungkan.
3. Jika hal-hal yang diatur cukup kompleks, maka diskusikan poin-poin tersebut dengan rekan bisnis anda atau pelajari dulu setidaknya minta waktu satu hari untuk mempelajarinya. Jika bingung konsultasikan pada ahlinya, bisa melalui teman anda yang ahli dibidangnya. Jangan sekali-kali menganggap remeh suatu pernyataan hukum.
4. Bagi pemula mulailah menghargai diri sendiri dengan memiliki tarif yang layak sesuai dengan dedikasi dan kualitas yang anda berikan.
Demikian saya sampaikan artikel ini sekedar untuk berbagi pengalaman, agar dapat dimaknai dan diaplikasikan lebih lanjut khususnya bagi pemula agar tetap mampu eksis dalam kancah bisnis disain grafis yang tidak ada matinya. Selamat berkarya.