Selama ini masih banyak yang belum memahami fungsi ruang kosong dalam desain. Kebanyakan mereka yang belum paham akan hal ini akan berkomentar “Kok ini dibiarin kosong?”, “Mubazir nih”, “Tulisannya gedein lagi dong biar nggak ada yang kosong”, dll.
Ruang kosong dalam desain memang terkesan “mubazir”, jika ia tidak difungsikan dengan benar. Tetapi jika memang ruang kosong itu disengaja ada, dengan maksud memperkuat komunikasi dalam desain tersebut, tentu ia menjadi bermanfa’at buat desain tersebut.Analogi ruang kosong dalam desain seperti sebuah ruang terbuka dalam lingkungan atau seperti sebuah ruang keluarga yang lapang dalam sebuah rumah. Bayangkan jika kita tinggal di sebuah pemukiman yang sangat padat. Jalan-jalan disekitarnya hanyalah jalan-jalan kecil yang paling bisa dilewati motor. Tidak ada lapangan, temapat olahraga apalagi taman. Sangat berbeda dengan sebuah daerah pemukiman yang memiliki banyak ruang interaksi, tentu lebih nyaman untuk ditinggali.
Ruang kosong adalah tempat mata “berisitrahat”. Sebuah desain yang hanya berisi tulisan, tanpa ilsutrasi apa-apa, tentu akan membuat pembaca “pusing” atau lelah. Apalagi jika ternyata content-nya tidak begitu menarik buat si Pembaca. Di jamin, pasti ditinggalkan!
Ruang kosong juga bertugas mengisolasi informasi, sehingga para pembaca terfokus perhatiannya pada bagian yang kita beri ruang tersebut. Setelah itu, kita bisa memindahkan fokus pembacaan pada hirarki berikutnya dalam desain tersebut.
Tetapi tentunya ruang kosong harus benar-benar dipertimbangkan. Membuat ruang kosong, tanpa kemantapan konsep hanya menimbulkan kemubaziran. Apalagi kita hidup di Indonesia, di mana pemahaman akan hal ini masih lemah. Tentu menjadi tantangan buat para desainer atau mereka yang terbiasa membuat desain untuk mengoptimalkan semua kekuatan dan faktor desain agar menghasilkan desain grafis yang bagus dan komunikatif tentunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar